Rabu, 18 Mei 2016

vasektomi

kontrasepsi mantap
( vasektomi )

a. defenisi
Vasektomi adalah tindakan memotong saluran sperma yang menghubungkan buah zakar (testis) dengan kantong sperma, sehingga tidak dijumpai lagi bibit (sperma) dalam ejakulat seorang pria; pada wanita isilahnya tubektomi (memotong saluran tuba falopii)

 
SYARAT VASEKTOMI
  • Sukarela, artinya klien telah mengerti dan memahami segala akibat prosedur vasektomi selanjutnya memutuskan pilihannya atas keinginan sendiri, dengan mengisi dan menandatangani informed concent (persetujuan tindakan)
  • Bahagia, artinya klien terikat dalam perkawinan yang syah dan telah mempunyai jumlah anak minimal 2 orang dengan umur anak terkecil minimal 2 tahun
  • Sehat, melalui pemeriksaan oleh dokter klien dianggap sehat dan memenuhi persyaratan medis untuk dilakukan prosedur tindakan vasektomi.

    TEKNIK VASEKTOMI
    Prinsipnya bagaimana menjadikan pipa saluran spermatozoa atau sel benih vasa deferens pria agar betul-betul dibuat buntu. Kita tahu saluran sel benih yang sebesar kabel telepon berada di dalam kantong buah zakar (scrotum), Pipa ini menjadi penghubung yang mengalirkan sel benih yang diproduksi oleh buah zakar menuju kelenjar prostat yang berada d atasnya, di luar kantong zakar.
    Di dalam prostat, sel benih lalu direndam oleh media berupa getah yang diproduksi oleh prostat. Selain itu disiram pula oleh cairan seminal, sehingga volumenya menjadi lebih banyak. Campuran ketiganya itu menjadi apa yang kita kenal sebagai air mani atau sperma.
    Jadi, sebagian besar air mani yang keluar itu sesungguhnya lebih banyak berisi getah prostat dan cairan seminal (sekitar 95 persen), dan hanya sebagian kecil saja berisi sel benih (sekitar 5 persen). Taruhlah sekali ejakulasi rata-rata mengeluarkan 5 cc air mani, volume sel benihnya mungkin hanya sekitar 0,15cc saja.
    Jadi, setelah seorang pria divasektomi, volume air mani yang sekitar 0,15 cc itu saja yang tertahan tidak ikut keluar bersama ejakulasi karena pipa yang mengalirkannva sudah dibikin buntu. Kendati yang sedikit ini besar maknanya dalam hal kesuburan, hampir tak ada artinya dalam urusan ejakulasi dan pernik seks lainnya.
    Teknik konvensional vasektomi yang lazim dilakukan dengan cara memotong pipa saluran sel benih, kemudian mengikat kedua ujung potongannya. Karena pipa alit ini ada pada kedua belah sisi buah zakar, pemotongan dilakukan pada kedua belah sisi.

    Caranya, dengan membius lokal dengan suntikan pada kulit sebelah pinggir kantong buah zakar setelah meraba lokasi pipa sel benihnya. Pada bagian ini lalu dibelek beberapa sentimeter untuk menemukan sang pipa. Pipa lalu ditarik keluar dan dipotong. kemudian masing-masing ujung pipanya diikat, lalu dimasukkan kembali ke dalam kantong zakar. Bekas luka belekan dijahit, dan selesai sudah. Prosesnya kira-kira 20 menit untuk kedua sisi buah zakar.
    Teknik yang lebih baru dilakukan dengan cara pembakaran (cauterisasi) pada pipa sel benih. Tidak perlu membelek terlebih dulu (no scalpel vasectomy), melainkan dengan jarum khusus langsung menembus kulit kantong buah zakar pada lokasi pipa sel benih berada, dan setelah pipanya ketemu, dilakukan cauterisasi. Hasilnya sama-sama bikin buntu pipa penyalur sel benih.
    Sekarang dikenal pula teknik dengan menggunakan klip (Vasclip). Dengan klip khusus sebesar butir beras, pipa sel benih dijepit. Ini sudah dipakai di AS sejak tahun 2002, dan disahkan oleh FDA, tetapi hanya berlaku di kalangan AS saja.
    VASEKTOMI TANPA PISAU
    PROFIL
    Hingga saat ini diseluruh dunia Vasektomi Tanpa Pisau telah diterima oleh lebih dari 9 juta pria. Vasektomi Tanpa Pisau diyakini telah menurunkan derajat kengerian pada para pria terhadap terhadap pembedahan vasektomi. Hal ini terjadi karena vasektomi tanpa pisau tidak memerlukan penyayatan dengan pisau bedah (Antarsh, 1988). Selama bertahun-tahun laporan klinis juga telah mendokumentasikan keamanan, efisiensi dan kenyamanan klien terhadap prosedur Vasektomi Tanpa Pisau.
    KEUNTUNGAN VASEKTOMI TANPA PISAU
  • Tidak menyebabkan pembengkakan pada lokasi injeksi anestesi dan lubang luka
  • Mengurangi ketidak nyamanan klien karena adanya blok peri vasal
  • Kerusakan jaringan lebih sedikit.
  • Vas deferens diikat di bawah penglihatan secara langsung
  • Berkurangnya risiko perdarahan dan hematoma
  • Tidak perlu jahitan untuk penutupan kulit luka (cukup dengan handiplash)
  • Prosedur memakan waktu lebih sedikit (10 - 15 menit)
  • Dapat mengurangi ketakutan pria terhadap vasektomi sebagai pembedahan.

Minggu, 15 Mei 2016

kejadian dismenorea

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN DIMENOREA


a.  Faktor- Factor yang Mempengaruhi Kejadian Dismenorea
A,. Faktor kejiwaan
Pada remaja yang secara emosional belum stabil jika tidak mendapat penerangan yang baik dan benar tentang proses menstruasi sehingga mudah untuk  timbul terjadinya dismenorea (Sarwono, 2006).
B .  Faktor konstitusi
Faktor konstitusi ini dapat menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri, seperti kondisi fisik lemah, anemia, penyakit menahun dan lain sebagainya dapat mempengaruhi timbulnya dismenorea   (Sarwono, 2006).
C .  Faktor endokrin
Timbulnya nyeri menstruasi diduga karena kontraksi rahim (uterus) yang berlebihan (Proverawati dan Misaroh, 2009).
d.  Faktor Aktifitas
Emosional yang tertekan dan suasana hati yang murung akan mempengaruhi aliran darah dapat mempengaruhi terjadinya nyeri (dismenorea). Nyeri menstruasi ini yang memaksa wanita untuk istirahat atau yang berakibat pada menurunnya kinerja dan berkurangnya aktifitas sehari-hari (bahkan, kadang bisa membuat tidak berdaya) (Proverawati dan Misaroh, 2009).
e.  Faktor Status Gizi
Status gizi yang kurang atau terbatas selain akan mempengaruhi pertumbuhan, fungsi organ tubuh, juga akan menyebabkan terganggunya fungsi reproduksi. Hal ini akan berdampak pada gangguan haid,  tetapi akan membaik bila asupan nutrisinya baik (Paath, 2008).Pada remaja wanita perlu mempertahankan status gizi yang baik, dengan cara mengkonsumsi makanan seimbang karena sangat dibutuhkan pada saat haid. Pada saat haid fase luteal akan terjadi peningkatan kebutuhan nutrisi. Dan bila hal ini diabaikan maka dampaknya akan terjadi keluhan-keluhan yang menimbulkan rasa ketidaknyamanan selama siklus haid (Paath, 2004)
 
b. Tingkatan Dismenorea.
                Setiap menstruasi menyebabkan rasa nyeri, terutama pada awal menstruasi namun dengan kadar nyeri yang berbeda-beda. Dismenorea secara siklik dibagi menjadi tiga tingkat keparahan, yaitu:
1.      Dismenorea ringan
Dismenorea yang berlangsung beberapa saat dan klien masih dapat melaksankan aktifitas sehari-hari.
2.      Dismenorea sedang
Dismenorea ini membuat klien memerlukan obat penghilang rasanyeri dan kondisi penderita masih dapat beraktivitas.
3.      Dismenorea berat
Dismenorea berat membuat klien memerlukan istirahat beberapa hari dan dapat disertai sakit kepala, migrain, pingsan, diare, rasa tertekan, mual dan sakit perut.(Manuaba, 2009).



Sabtu, 14 Mei 2016

asuhan persalinan nornal

 ASUHAN PERSALINAN NORMAL

a. defenisi
Pengertian asuhan persalinan normal adalah asuhan kebidanan pada persalinan normal yang mengacu kepada asuhan yang bersih dan aman selama persalinan dan setelah bayi lahir serta upaya pencegahan komplikasi (Depkes, 2004).

b. tujuan asuhan persalinan normal.
Tujuan asuhan persalinan normal adalah menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai upaya terintegrasi dan lengkap tetapi dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan (optimal).

STANDAR OPERASIONAL PERTOLONGAN PERSALINAN NORMAL

  1. PERSIAPAN ALAT
1.    Cuci Tangan
a.       Tempat air mengalir untuk menampung air yang digunakan untuk cuci tangan
b.      Sabun cair/sabun batangan yang sudah dipotong kecil-kecil yang diletakkan dalam kotak bersih
c.       Handuk kecil yang ditempatkan di kotak bersih, digunakan untuk mengelap tangan setelah selesai cuci tangan 1 handuk untuk 1 kali cuci.
d.      1 timba untuk tempat air kotor bekas cucian tangan
e.       1 timba untuk tempat handuk kotor
f.       1 tempat khusus untuk meletakkan jam, perhiasan dan asesoris lainnya
2.    Alat Perlindungan Diri Penolong
a.       Penutup Kepala (Bisa dikenakan sebelum cuci tangan supaya tidak lupa)
b.      Kaca mata geogle (Bisa dikenakan sebelum cuci tangan supaya tidak lupa)
c.       Masker (Bisa dikenakan sebelum cuci tangan supaya tidak lupa)
d.      Celemek/skort (Bisa dikenakan sebelum cuci tangan supaya tidak lupa)
e.       Sepatu boot karet
3.    Peralatan Lain
a.       Tempat Sampah medis yang dilapisi plastik merah
b.      Tempat Sampah non medis yang dilapisi plastik hitam
c.       Bak/timba yang berisi larutan klorin 0.5% (untuk membersihkan alat dan membersihkan ibu setelah setelah proses persalinan)
d.      Tempat linen kotor (tempat pakaian/kain ibu dan bayi yang baru dipakai untuk proses persalinan)
e.       Tempat placenta
f.       1 gelas ukur (digunakan untuk mengukur jumlah darah yang keluar saat persalinan)
4.      Alat untuk pemeriksaan dalam
a.       1 kom tertutup berisi air DTT ( untuk membasahi Kapas DTT)
b.      1 kom berisi kapas DTT (untuk vulva hygiene pada ibu sebelum VT)
c.       2 buah bengkok (digunakan saat VT, satu diletakkan di dekat vulva satunya lagi diletakkan agak jauh)
d.      1 korentang (untuk mengambil sarung tangan pada bak instrumen yang steril dalam partus set)
5.      Partus set dalam bak instrumen yang berisi :
a.    2 klem (untuk mengeklem tali pusat ketika akan dipotong)
b.    1 gunting tali pusat (untuk memotong tali pusat bayi sesaat setelah lahir)
c.    ½ koker (untuk melakukan amniotomi ketika ketuban belum pecah setelah pembukaan lengkap)
d.   1 gunting episiotomi (tidak harus digunakan, hanya digunakan bila keadaan terdesak)
e.     Benang tali pusat (untuk menali tali pusat setelah dipotong)
f.      2 pasang sarung tangan DTT steril ( sarung tangan pertama digunakan untuk VT, sarung tangan kedua digunakan untuk menolong persalinan)
g.    Deperst (seperlunya saja)
I.        Peralatan TTV
1.      Peralatan TTV, meliputi :
e.       1 tensi meter dan 1 stetoskop (digunakan untuk mengontrol tensi darah pasien)
f.       2 termometer axila (satu digunakan untuk mengukur suhu ibu dan yang satunya digunakan untuk mengukur suhu tubuh bayi)
g.      3 gelas (digunakan sebagai wadah air klorin, air sabun sama air DTT untuk desinfektan thermometer)
h.      1 Funandoskop (digunakan untuk mengukur DJJ janin ketika belum lahir)
II.     Alat dan Obat-obatan
a.    Oksitosin 10 UI (minimal 4, digunakan ketika placenta akan lahir  untuk merangsang agar cepat keluar), lidokain (minimal 4, diguunakan sebagai anatesi ketika akan dilakukan episiotomi daa penjahitan), vit K (1 ampul, untuk mencegah terjadinya perdarahan pada bayi), vaksin Hb 0
b.    1 spuit 1 cc (digunakan untuk injeksi Vit K), 1 spuit 3 cc (digunakan untuk injeksi oksitosin), 1 spuit 10 cc (digunakan untuk injeksi lidokain)
c.    3 cairan infus RL dan 1 cairan infus D 5 %
d.   1 vena kateter nomor 16/18 (digunakan untuk memasang infus)
e.    Blood set
III.            Peralatan Resusitasi
a.    1 balon sungkup
b.    Delee (digunakan untuk menghisap lendir)
c.    Lampu sorot 60 watt (digunakan untuk penerangan dan untuk menghangatkan tempat resusitasi oleh karena itu lampunya dinyalakan ketika persalinan akan dimulai)
d.   1 Meja resusitasi
e.    Kain pengganjal kepala
IV.      Haechting Set
1.    1 set bak instrumen yang berisi :
a.    1 nail fuder
b.    1 pinset sirkugis
c.    1 pinset anatomis
d.   Nail heachting otot dan kulit
e.    Catgut cromik ukuran 0,02/0,03
f.     1 gunting benang
V.     Kain tenun untuk Ibu dan bayi
a.    Handuk bersih ( untuk diletakkan diatas perut ibu)
b.    1 under pad (untuk diletakkan dibawah bokong)
c.    Kain penyangga perineum( untuk penyangga perineum saat pertolongan kelahiran bayi)
d.   Selimut bayi ( untuk mengganti handuk diatas perut ibu yang basah)
e.    1 lembar kain bersih (diletakkan diatas perut ibu untuk mengetahui adanya bayi kedua dan cek kontraksi )
f.     Selimut ibu dan bayi ( digunakan untuk menutupi tubuh ibu dan bayi saat IMD)
g.    Pembalut nifas
h.    Celana dalam
i.       Kain panjang digulung
j.      2 waslap ( untuk membersihkan tubuh ibu )
k.    Pakaian Ibu
  1. PERSIAPAN  LINGKUNGAN
1.      Tutup sketsel, jendala dan pintu
Untuk menjaga privasi pasien.
2.      Beri penerangan yang cukup
Untuk memudahkan bidan dalam melakukan tindakan yang akan dilakukan.
3.      Siapkan tempat tidur pasien
Tempat tidur yang memudahkan bidan memberikan pertolongan pada persalinan normal.
  1. PERSIAPAN PASIEN
1.      Berikan penjelasan tentang prosedur, tujuan dan manfaat
Memberitahukan ibu bahwa bidan akan melakukan pertolongan persalinan, agar bayi lahir dan ibu melewati proses persalinan dengan normal agar terhindar dari komplikasi.
2.      Informed concent
Memberitahukan ibu untuk menandatangani surat pernyataan bahwa ibu bersedia dilakukan pertolongan yang akan di lakukan.
3.      Bantu klien dalam posisi yang nyaman
Dianjurkan ibu pada posisi setengah duduk, tidak dianjurkan ibu untuk tidurterlentang.